Perbedaan psikologi agama dengan psikologi islam.

A. Pengertiann psikologi.
Sebelum kita menilik lebih jauh perbedaan antara keduanya, maka kami akan sedikit menjelaskan apa itu psikologi, telah kita kenal Psikologi adalah “ Ilmu Jiwa” istilah psikologi berasal dari bahasa Inggris “Psychology” merupakan dua akar kata yang bersumber dari bahasa greek ( yunani ) yaitu psych yang artinya jiwa dan logos yang artinya “ Ilmu jiwa”. Psikologi secara umum di artikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (jalaludin, 1979:77). Menurut Robert H. Thouless, psikologi sekarang di gunakan secara umum untuk ilmu tentang tinggah laku dan pengalaman manusia (Robert H. Thouless, 1992:13). Jadi secara harfiah psikolgi adalah suatu ilmu yang mengkaji tentang jiwa atau kejiwaan yang berada di belakang atau abstrak dalam diri manusia. Karena jiwa itu bersifat abstrak, maka untuk mempelajari kehidupan kejiwaan mausia hanya mungkin di lihat dari gejala yang tampak, yaitu pada sikap dan tingkah laku yang di tampilkannya.
B. Pengertian agama.
Agama adalah sesuatu yang amat rumit jika harus di cari secara rinci dan tepat, karena agama adalah suatu keyakinan yang tak tampak, yang berhubungan dengan kebathinan setiap orang, yang berbentuk pada keyakinan kepada tuhan yang mendalam. Hal ini pula mungkin, yang mempersulit para ahli untuk menyimpulkan atau memberikan defenisi tentang agama. J.H Leuba dalam bukunya A Psychologi Study of Relegion telah memasukan lampiran yang berisi 48 defenisi agama yang di berikan beberapa penulis (Robert. H. Thouless:17) tampaknya belum juga memuaskannya. Bahkan ia sampai pada kesimpulan bahwa usaha mendefenisikan agama tidak ada gunanya, karena hanya merupakan kepandaian bersilat lidah (Zakiah Darajat, 1970: 23) walter Houston Clark dengan tegas, juga menegakui bahwa tidak ada yang lebih sukar dari pada mencari kata-kata yang dapat di gunakan untuk mendefenisikan agama (Zakiah Darajat:12).
Harun Nasution mengemukakan pengertian agama degen mendasarkan asal kata, yaitu al-Din, Religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (semit) berarti undang-undang atau hukum. Kemudian dalam bahasa arab, kata ini mengandung arti menguasai, menundukan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religare berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Adapun kata agama terdiri dari a= tidak, gam=pergi. Mengandung arti tidak pergi, tetap di tempat atau di warisi turun temurun ( Harun Nasution, 1974: 10). Dapat di simpulkan bahwa intisari dari agama adalah ikatan. Karena itu agam mengandung arti ikatan yang harus di pegang dan di patuhi manusia. Ikatan di maksud berasal dri kekuatan yang lebih tinggi dari manusia sebagai kekuatan gaib yang tidak dapat di tangkap oleh panca idra, namun memiliki pengaruh yang cukup besar sekali terhadap kehidupan manusia sehari hari.
C. Pengertian psikologi islam.
Psikologi secara etimologi memiliki arti ilmu tentang jiwa. Dalam Islam, istilah jiwa dapat disamakan istilahal -nafs, namun ada pula yang menyamakan dengan istilahal-ruh, meskipun istilahal-nafs lebih populer penggunaannya daripada istilahal -nafs. Psikologi dapat diterjamahkan ke dalam bahasa Arab menjadi ilmu al-nafs atau ilmu al-ruh. Penggunaan masing-masing kedua istilah ini memiliki asumsi yang berbeda. Istilah Ilm al-Nafs banyak dipakai dalam literatur Psikologi Islam. Bahkan Sukanto Mulyomartono lebih khusus menyebutnya dengan Nafsiologi. Penggunaan istilah ini disebabakan objek kajian psikologi Islam adalah al-nafs, yaitu aspek psikopisik pada diri manusia. Termal-nafs tidak dapat disamakan dengan terma soul atau psyche dalam psikologi kontemporer Barat, sebab al-nafs merupakan gabungan antara substansi jasmani dan substansi ruhani, sedangkan soul atau psyche hanya berkaitan dengan aspek psikis manusia. Menurut kelompok ini, penggunaan term al-nafs dalam tataran ilmiah tidak bertentangan dengan doktrin ajaran Islam, sebab tidak ada satupun nash yang melarang untuk membahasnya. Tentunya hal itu berbeda dengan penggunaan istilah al-ruh yang secara jelas dilarang mempertanyakannya (perhatikan Q.S. al-Isra` ayat 85).
Penggunaan istilah Ilm al-Ruh ditemukan dalam karya psikolog Zuardin Azzaino. Istilah itu kemudian dijadikan dasar untuk membangun Psikologi Ilahiah, yaitu psikologi yang dibangun dari kerangka konseptual al-ruh yang berasal dari Tuhan. Boleh jadi Azzaino tidak mengikuti perkembangan literatur Psikologi Islam, sebab literatur yang digunakan dalam bukunya tidak satupun yang bersumber dari Ilm al-Nafs fi al-Islam (Psikologi Islam). Tetapi yang menarik dari tawaran Azzaino tersebut adalah bahwa ruh yang menjadi objek kajian psikologi Islam memiliki ciri unik, yang tidak akan ditemukan dalam Psikologi Kontemporer Barat. Objek kajian Psikologi Islam adalah ruh yang memiliki dimensi ilahiah (teosentris), sedangkan objek kajian Psikologi Kontemporer Barat berdimensi insaniah (antroposentris). Karena perbedaan yang mendasar inilah maka Azzaino terpaksa menggunakan terma khusus untuk menentukan ciri unik Psikologi Islam.
Hakekat psikologi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hakekat definisi tersebut mengandung tiga unsur pokok;
Perta ma, bahwa psikologi Islam merupakan salah satu dari kajian masalah-masalah keislaman. Ia memiliki kedudukan yang sama dengan disiplin ilmu keislaman yang lain, seperti Ekonomi Islam, Sosiologi Islam, Politik Islam, Kebudayaan Islam, dan sebagaianya. Penempatan kata Islam di sini memiliki arti corak, cara pandang, pola pikir, paradigma, atau aliran. Artinya, psikologi yang dibangun bercorak atau memilili pola pikir sebagaimana yang berlaku pada tradisi keilmuan dalam Islam, sehingga dapat membentuk aliran tersendiri yang unik dan berbeda dengan psikologi kontemporer pada umumnya. Tentunya hal itu tidak terlepas dari kerangka ontologi (hakekat jiwa), epistimologi (bagaimana cara mempelajari jiwa), dan aksiologi (tujuan mempelajari jiwa) dalam Islam. Melalui kerangka ini maka akan tercipta beberapa bagian psikologi dalam Islam, seperti Psikopatologi Islam, Psikoterapi Islam, Psikologi Agama Islam, Psikologi Perkembangan Islam, Psikologi Sosial Islam, dan sebagainya.
Kedua, bahwa Psikologi Islam membicarakan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia. Aspek-aspek kejiwaan dalam Islam berupa al-ruh, al-nafs, al-kalb, al-`aql, al-dhamir, al-lubb, al-fuad, al-sirr, al-fithrah, dan sebagainya. Masing-masing aspek tersebut memiliki eksistensi, dinamisme, proses, fungsi, dan perilaku yang perlu dikaji melalui al-Quran, al-Sunnah, serta dari khazanah pemikiran Islam. Psikologi Islam tidak hanya menekankan perilaku kejiwaan, melainkan juga apa hakekat jiwa sesungguhnya. Sebagai satu organisasi permanen, jiwa manusia bersifat potensial yang aktualisasinya dalam bentuk perilaku sangat tergantung pada daya upaya (ikhtiyar)-nya. Dari sini nampak bahwa psikologi Islam mengakui adanya kesadaran dan kebebasan manusia untuk berkreasi, berpikir, berkehendak, dan bersikap secara sadar, walaupun dalam kebebasan tersebut tetap dalam koredor sunnah-sunnah Allah Swt.
Ketiga, bahwa Psikologi Islam bukan netral etik, melainkan sarat akan nilai etik. Dikatakan demikian sebab Psikologi Islam memiliki tujuan yang hakiki, yaitu merangsang kesadaran diri agar mampu membentuk kualitas diri yang lebih sempurna untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Manusia dilahirkan dalam kondisi tidak mengetahui apa-apa, lalu ia tumbuh dan berkembang untuk mencapai kualitas hidup. Psikologi Islam merupakan salah satu disiplin yang membantu seseorang untuk memahami ekspresi diri, aktualisasi diri, realisasi diri, konsep diri, citra diri, harga diri, kesadaran diri, kontrol diri, dan evaluasi diri, baik untuk diri sendiri atau diri orang lain. Jika dalam pemahaman diri tersebut ditemukan adanya penyimpangan perilaku maka Psikologi Islam berusaha menawarkan berbagai konsep yang bernuasailahiyah, agar dapat mengarahkan kualitas hidup yang lebih baik, yang pada gilirannya dapat menikmati kebahagiaan hidup di segala zaman. Walhasil, mempelajari psikologi Islam dapat berimplikasi membahagiakan diri sendiri dan orang lain, bukan menambah masalah baru seperti hidup dalam keterasiangan, kegersangan, dan kegelisahan.

Dari pengertian psikologi dan pengertian agama di atas, dapat disimpulkan bahwa pengertian psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari gejala – gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran , perasaan dan kehendak yang bersifat abstrak yang menyangkut dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan bathin ,manusia yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia dan menimbulkan cara hidup manusia atau ajaran – ajaran yang diwahyukan tuhan kepada Mnusia melalui seorang rasul.
Menurut Prof Dr. Zakiah Daradjat. Psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku serta keadaan hidup pada umumnya.
Jadi dapat di simpulkan psikologi agama adalah sebuah ilmu yang mempelajari tinggkah laku manusia terhadap sebuah keyakinan beragama berhubungan dengan kebathinan, dan bersangkut paut dengan ketuhanan. Sehingga psikologi agama juga dapat menjadi sebuah ilmu yang memperhatikan tinggakah laku manusia dengan tuhannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan Psikologi Islam bukanlah cabang psikologi karena psikologi Islam tidak membicarakan tingkah laku yang merupakan satu aspek kehidupan. Namun, psikologi Islam adalah aliran dalam psikologi yang menawarkan cara pandang tentang manusia dan tingkah lakunya. Sebagaimana aliran psikologi lainnya, seperti Psikoanalisa, behaviorisme, humanistik, dan transpersonal, maka psikologi Islam juga memiliki cara pandang tentang manusia dan tingkah laku manusia secara tersendiri. Banyak para ahli yang telah menawarkan rumusan psikologi Islam. Salah satunya adalah Baharuddin yang menyatakan, Psikologi Islam adalah ilmu yang membicarakan tingkah laku manusia berdasarkan cara pandang Islam tentang manusia dalam bertingkah laku ketika berhubungan dengan diri, lingkungan, dan Tuhannya. Dapat di simpulkan bahhwa psikolgi islam adalah sebuah ilmu yang mempelajari gejala dan tinggkah laku orang-orang muslim yang memiliki keyakinan terhadpa tuhan yang satu. Sehingga psikologi dapat memandang kehidupan dan tingkah laku orang muslim dan dapat membedakannya dengan orang yang memiliki agama tetapi buakan orang islam.

D. Simpulan.
1. psikologi agama adalah ilmu yang mempelajari gejala – gejala kejiwaan manusia yang berkaitan dengan pikiran , perasaan dan kehendak yang bersifat abstrak yang menyangkut dengan masalah yang berhubungan dengan kehidupan bathin ,manusia yang mempengaruhi perbuatan – perbuatan manusia dan menimbulkan cara hidup manusia atau ajaran – ajaran yang diwahyukan tuhan kepada Mnusia melalui seorang rasul.
2. Psikologi Islam adalah ilmu yang membicarakan tingkah laku manusia berdasarkan cara pandang Islam tentang manusia dalam bertingkah laku ketika berhubungan dengan diri, lingkungan, dan Tuhannya.
3. Hakekat psikologi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut: kajian Islam yang berhubungan dengan aspek-aspek dan perilaku kejiwaan manusia, agar secara sadar ia dapat membentuk kualitas diri yang lebih sempurna dan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s